HOME | Tempat Jajanan Asyik | Resep Masakan Khas | Kalender Wisata | Jalan Jalan Yuk

Wednesday, February 1, 2012

BPS - Pemkot Beda Data

PONTIANAK - Badan Pusat Statistik meluncurkan buku Pontianak dalam angka. Salah satu isinya, suspect tuberculosis (TBC) di Pontianak lebih dari 2.000 orang. Wali Kota Pontianak Sutarmidji tidak percaya data tersebut. Menurutnya penderita TBC di kota ini tidak tidak sampai 2.000 kasus. “Kasus suspect di data BPS sangat besar, kasus baru lebih 2000. Saya tidak terlalu percaya dan minta kepala dinas kesehatan mengeceknya,” katanya, kemarin (31/1).

Kepala Dinas Kesehatan Multi Juto Bhatarendro mengungkapkan, dirinya sudah melihat data yang dikeluarkan BPS tersebut. Menurutnya data tersebut tidak seperti kenyataan. Suspect TBC di Pontianak tidak sampai 2.000 kasuis. “Masak suspect di Pontianak hampir 3.000 itu tidak benar. Kami sudah cek, BPS mengaku salah entri,” tegasnya. Dari seluruh kabupaten/kota di Kalbar, Pontianak justru menempati urutan tiga terendah. Angka kesakitan hanya 0,93 persen per seribu penduduk. Lebih kecil dari angka nasional yang 1,1. “Aneh sekali data tersebut padahal Pontianak sangat rendah kasus TBC-nya,” ujarnya.

Multi sudah meminta BPS mengubah data tersebut, tetapi terkendala dengan administrasi. Kata Multi, BPS meminta permohonan mengubah data dilakukan secara formal. Pihaknya tidak ingin seperti itu karena dalam memperoleh data BPS tidak berkoordinasi dengan dinkes. “BPS kalau dikonfirmasi agak ngotot, bagi kami ini bukan soal ego sektoral,” tuturnya.

Jika suatu data dituangkan dalam buku yang formal, menurut Multi datanya harus valid. Dia beralasan data tersebut akan digunakan pemangku jabatan untuk intervensi program. “BPS jangan ambil satu sumber lalu dicetak dalam bentuk buku. Harusnya mengkaji lebih jauh dengan perbandingan sumber data,” ungkap dia.
Kata Multi, BPS mengaku mengambil data dari Balai Pengobatan Paru-paru Kalbar. Padahal pasien yang datang di tempat itu berasal dari seluruh kabupaten/kota di provinsi ini. “Mungkin dengan kesadaran masyarakat bisa datang ke BP4, tetapi itukan se-Kalbar,” katanya.

Anehnya lagi, lanjutnya, dalam data yang disajikan di salah satu rumah sakit terjadi angka kematian ibu dan bayi mencapai 400 orang padahal pasien yang melahirkan di rumah sakit tersebut hanya 300 orang. “Jadi banyak hal yang keliru, kalau dibaca pengambil kebijakan bahaya. Saya bandingkan dengan data dinas kesehatan Kalbar itu tidak sinkron,” ucap Multi. Kepala BPS Kota Pontianak Suminar K mengatakan, angka yang disampaikan dalam buku tersebut sudah sesuai prosedur. Untuk angka TBC memang dia mengakui memperolehnya dari BP4.   “Iya memang data itu kami dapatkan dari BP4. Judulnya sudah benar, yakni jumlah kunjungan berdasarkan domisili. Artinya pengunjung yang berasal dari Pontianak,” ungkapnya singkat. (hen)


Sumber : Pontianak Post

1 comments:

Post a Comment