HOME | Tempat Jajanan Asyik | Resep Masakan Khas | Kalender Wisata | Jalan Jalan Yuk

Saturday, November 19, 2011

Sesepuh Letakan Batu Pertama

Oso Siap Gadaikan Hotel untuk Pembangunan Masjid

PONTIANAK –Salat Jumat terakhir dibangunan lama Masjid Raya Mujahidin, kemarin (18/11) dipenuhi ribuan jamaah. Usai salat, mereka juga turut menyaksikan langsung acara peletakan batu pertama, pembangunan Masjid Agung Mujahidin Pontianak. Peletakan batu pertama tak dilakukan pejabat daerah, namun yang diberi kehormatan oleh  Ketua Panitia Pembangunan Masjid Agung Mujahidin Pontianak, Oesman Sapta Odang (Oso)  adalah sesepuh masjid. Dia adalah perempuan muslimah bernama Hj. Djoes Noer Hamid diikuti sesepuh yang lain.

   Pantauan Pontianak Post, banyak yang tidak mendapat tempat di dalam dan selasar masjid, saat salat jumat. Sebagian membuat saf di bangunan baru. Itu pun tidak dapat menampung jamaah, pengurus sampai menggelar karpet di depan sekretariat di sebelah kiri masjid. Maklum, kemarin adalah salat Jumat terakhir di bangunan lama Masjid Mujahidin.Setelah menunaikan salat sebagian jamaah bergeser ke selasar belakang masjid yang telah diberi atap, tepat di bawah tower utama yang baru dibangun. Di tempat itu dilaksanakan seremoni peletakan batu pertama pembangunan Masjid Mujahidin.

Ketua Panitia Pembangunan, Oso, ketua harian Sutarmidji, Ketua PBNU Said Aqil Siradj, tokoh Islam Kalbar, sesepuh Masjid Mujahidin, istri mantan Gubernur Kalbar, Ny Oevang Oeray, Mantan Ketua DPRD Kalbar Gusti Syamsumin, Gubernur Kalbar Cornelis dan Wakilnya Christiandy Sanjaya,  Muspida provinsi dan Kota Pontianak serta sebagian jamaah salat Jumat hadir di ruangan itu. Hadir pula beberapa kepala daerah, di antaranya, Bupati Sanggau Setiman H Sudin dan Bupati Kayong Utara Hildi Hamid. Sebelumnya, pada salat Jumat, Said Aqil Siradj berlaku sebagai khatib.

    Hanya sebentar protokoler Pemprov Kalbar memegang mikrofon sebelum acara dimulai. Sekedar mempersilakan jamaah masuk ke ruangan, selanjutnya diambil alih Wali Kota Pontianak Sutarmidji. Selaku ketua harian pembangunan masjid, dia menjadi pemandu acara.  Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Asnawi dan saritilawah Subandria. Dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia. Dalam sambutannya, Oso mengatakan, menyanggupi permintaan menjadi ketua panitia hanya karena Allah. Tidak ada niat lain, hanya untuk beramal. “Saya sadari, sehari-hari hanya dunia saja yang dipikirkan. Saya menjadi ketua lillahita’ala,” ucapnya.

    Saat Oso berpidato, Ustaz Nur Maulana tiba.  Dia khusus di jemput dengan pesawat pribadi Oso dari Medan untuk memberikan tausiyah. Sorenya langsung dikembalikan lagi ke Medan, lantaran akan memberikan ceramah malam harinya.  
Waktu tiba,  Ustaz yang sedang naik daun ini sempat nyasar masuk ke bangunan masjid lama. Dilihatnya sepi, dia terpana sebelum akhirnya dipandu panitia menuju ruang acara. Oso langsung menyambutnya dengan salam. Maulana lantas memberi tausiyah usai pidato Oso. Bukan Maulana namanya jika tidak membuat orang tertawa. Tausiyahnya penuh dengan canda namun tetap berisi. Dia mengajak masyarakat membantu pembangunan Masjid Mujahidin. “Rumah pribadi saja bisa kita bangun sendiri, apalagi masjid yang merupakan rumah milik banyak orang. Saya yakin dapat selesai dibangun,” katanya.
Sekitar setengah jam memberi tausiyah, Maulana memberikan mikrofon kepada Said Aqil Siradj untuk membaca doa. Selepas itu, sesepuh masjid, panitia, muspida, tokoh Islam dan sebagian jamaah menuju depan pintu bangunan lama. Tepat di tangga, batu pertama diletakan. Ny.Hj. Djoes Noer Hamid yang pertama melakukannya, dilanjutkan sesepuh lainnya. Peletakan batu pertama itu diiringi tabuhan tahar.
    Sebelumnya, Gubernur Cornelis menyerahkan secara simbolis sumbangan Pemprov Kalbar sebesar Rp20 miliar. Uang tersebut diserahkan pada bendahara panitia, Rusliansyah D. Tolove. Panitia, tamu undangan dan jamaah selanjutnya menyantap makanan yang telah disediakan. Sementara Gubernur Kalbar Cornelis dan wakilnya Christiandy Sanjaya langsung pulang karena akan membuka kompetisi sumpit internasional di Singkawang.
Dalam seremoni peletakan batu pertama Masjid Mujahidin, terjadi insiden. Dua kali listrik padam saat Ustaz Maulana memberi tausiyah. Walau begitu dia tetap melanjutkan tausiyahnya dengan mengeraskan suara. Humas PLN Cabang Pontianak, Masfar Thomas mengatakan, kejadian bukan karena ada gangguan atau pemadaman listrik. Pihaknya telah mengecek ke Mujahidin, ternyata ada trafo yang terbakar. Penggunaan listrik di lingkungan Masjid Mujahidin waktu itu melebihi kapasitas. “Ada trafo yang terbakar karena penggunaan listrik melebihi daya. Tapi kami sedang tangani dan dalam waktu dekat listrik di Mujahidin normal,” tuturnya.

Siap Gadai Hotel
Oso mengatakan, panitia telah mengantongi Rp45 miliar. Masih ada kekurangan sekitar Rp 30 miliar untuk menyelesaikan pembangunannya hingga sempurna. “Rasa tidak percaya berdiri di sini dan menjadi ketua panitia pembangunan masjid,” ucapnya membuka sambutan.
    Uang yang tersedia tersebut berasal dari Pemprov Kalbar Rp 20 miliar, Pemkot Pontianak dan sumbangan masyarakat Rp 15 miliar serta uang pribadi Oso Rp 20 miliar.
    Menjadi ketua panitia, kata Oso, tidak terlepas dari peran Wali Kota Pontianak, Sutarmidji. Midji datang kepadanya dan meminta membantu pembangunan masjid bahkan turun langsung menjadi ketua. “Pak Wali Kota itu biang keroknya. Dia datang kepada saya, mengatakan kita sebagai umat terbesar di Kalbar tapi tidak punya masjid yang layak,” kenangnya.
    Oso meminta kepada pelaku usaha di Kalbar membantu pembangunan masjid secara materi. Pengusaha jangan hanya mengambil kekayaan Kalbar namun minim kontribusi. “Pak Gubernur, tolong pengusaha yang ada jangan hanya ambil kekayaan Kalbar. Tapi diminta sumbangannya  juga,” ujarnya pada Cornelis.
    Dipercaya menjadi ketua, Oso berkomitmen bertanggungjawab hingga pekerjaan selesai. Bahkan dia rela usaha miliknya Hotel Grand Mahkota di agunkan untuk mendapatkan pinjaman seandainya panitia kekurangan dana. “Kalau tiga puluh miliar itu tidak dapat dipenuhi juga, silakan Hotel Mahkota digadai,” katanya.
    Membenarkan apa yang disampaikan Oso, Sutarmidji mengatakan, sejarahnya pembentukan panitia berawal dari permintaan Gubernur Kalbar agar menyelesaikan pembangunan Masjid Mujahidin. “Saya diminta gubernur untuk menyelesaikannya. Katanya malu kalau ada tamu yang datang dan ingin ke masjid. Kita tidak punya masjid yang layak dan bagus. Karena biaya terlalu besar saya akhirnya datang ke Pak Oso dan memintanya membantu. Alhamdulillah beliau bersedia,” ucapnya.
    Ketua PBNU, Said Aqil Siradj bangga menyaksikan seremoni peletakan batu pertama pembangunan Masjid Mujahidin. Dia mengimbau warga NU, umumnya umat Muslim Kalbar membantu membangun masjid itu. “Saya bangga menyaksikannya. Apalagi Pak Gubernur dan wakilnya hadir, walau nonmuslim. Ini menunjukan Kalbar adalah daerah yang harmonis, masyarakatnya solid lintas agama,” ungkapnya.(hen)

0 comments:

Post a Comment